Tips memotret sambil berwisata (travelling photography)

My Photography January 13th, 2009

tangkuban-perahu.jpgSepertinya sudah menjadi hal yang wajib bagi setiap orang berpergian (travelling) selalu mengabadikan dirinya ataupun keluarganya dengan latar belakang tempat-tempat yang mereka kunjungi. Baik menggunakan sarana kamera handphone, kamera saku, kamera SLR ataupun dengan menyewa jasa foto-keliling yang bertebaran hampir disemua lokasi-lokasi wisata yang terkenal.

Kunci utama didalam travelling photography adalah membuat hasil foto tersebut dapat dimengerti dan diterima oleh seluruh lapisan masyarakat, alias tidak untuk dinikmati sendiri oleh si pengambil gambar (tukang foto).

Usahakan untuk menangkap mood dan budaya dari tempat-tempat yang Anda kunjungi. Dan jika Anda beruntung, Anda bisa menjual foto hasil perjalanan ini ke orang lain. Sungguh menyenangkan pastinya. ;)

Berikut ini tips-tips jitu didalam travelling photography :

Read the rest of this entry »

14 Tips memotret landscape

My Photography December 10th, 2008

Ada beberapa tips jitu yang ditulis di fotografer.net sana oleh maestro landscape Yadi Yasin, tentang bagaimana cara mengimprovisasi foto landscape dengan ‘baik dan benar’. Berikut ini 14 tips dari beliau untuk kita pelajari bersama-sama.

1. Maksimalkan Depth of Field (DoF)

3193707335.jpgSebuah pendekatan konsep normal dari sebuah landscape photography adalah “tajam dari ujung kaki sampai ke ujung horizon”. Konsep dasar teori “oldies” ini menyatakan bahwa sebuah foto landscape selayaknya sebanyak mungkin semua bagian dari foto adalah focus (tajam). Untuk mendapatkan ketajaman lebar atau dgn kata lain bidang depth of focus (DOF) yang selebar2nya, bisa menggunakan apperture (bukaan diafragma) yang sekecil mungkin (f number besar), misalnya f14, f16, f18, f22, f32, dst.
Tentu saja dgn semakin kecilnya apperture, berarti semakin lamanya exposure.

Karena keterbatasan lensa (yang tidak mampu mencapai f32 dan/atau f64) atau posisi spot di mana kita berdiri tidak mendukung, sebuah pendekatan lain bisa kita gunakan, yaitu teori hyper-focal, untuk mendapatkan bidang fokus yang “optimal” sesuai dgn scene yang kita hadapi. Inti dari jarak hyper-focal adalah meletakan titik focus pada posisi yang tepat untuk mendapatkan bidang focus yg seluas-luasnya yg dimungkinkan sehingga akan tajam dari FG hingga ke BG. Read the rest of this entry »