Tips memotret dikala senja (sunset)

My Photography January 21st, 2009

Setelah kemarin kita semua belajar mengenai tips mendapatkan foto secara candid, sekarang saatnya kita lanjutkan pelajaran memotretnya. Yuk dikeluarkan buku catatan dan kameranya ya .. ;)

sunset2.jpg

Memotret dikala senja mempunyai trik dan tantangan tersendiri yang harus Anda perhatikan dengan seksama. Karena waktu emas (golden hour) dari senja (sunset) ini teramat singkat, sekitar 1 jam sebelum matahari terbenam hingga 30 menit setelah matahari terbenam. Jadi total jendral kira-kira hanya sekitar 1,5 jam saja. Untuk acuan waktu terbenam matahari secara tepat adalah waktu adzan maghrib tiba. ;) Read the rest of this entry »

Tips memotret secara candid

My Photography January 16th, 2009

candid.jpgAda sebuah request dari om nanang yang gantheng disana yang menginginkan tips untuk memotret secara candid, akhirnya kupersembahkan tips candid photography yang biasanya adalah foto jenis portrait (potret) wajah dalam pose yang tidak biasanya dan natural.

Salah satu kelebihan dari seni photography jenis ini adalah human interest dan mood yang berhasil didapatkan secara candid (diam-diam), semakin natural, spontan dan ekspresif foto tersebut, maka semakin tinggi nilai jualnya. Tapi alangkah baiknya Anda melakukan pendekatan secara personal terlebih dahulu sebagai adat sopan santun kita sebelum (sesudah) mengambil foto mereka secara candid jika memungkinkan.

Fotographer candid rata-rata menggunakan lensa zoom tele (jauh) untuk mendapatkan hasil karya mereka. Dengan menggunakan lensa diatas ukuran focal length 70mm misalnya, maka akan diperoleh respon dari obyek lebih natural jika dibandingkan dengan lensa wide (28mm misal). Karena sang fotographer dan obyek yang akan diabadikan terdapat jarak aman serta berada diluar zona privasi dari si obyek.

Hampir sebagian besar paparazzi menggunakan lensa tele super panjang untuk bisa menangkap sasaran obyek yang jauh disana tanpa sepengetahuan mereka secara candid juga. Tapi tolong dibedakan antara foto candid yang diambil oleh paparazi dengan foto candid yang dilakukan secara spontan dan secara terbuka (sepengetahuan obyek). Read the rest of this entry »

Tips memotret sambil berwisata (travelling photography)

My Photography January 13th, 2009

tangkuban-perahu.jpgSepertinya sudah menjadi hal yang wajib bagi setiap orang berpergian (travelling) selalu mengabadikan dirinya ataupun keluarganya dengan latar belakang tempat-tempat yang mereka kunjungi. Baik menggunakan sarana kamera handphone, kamera saku, kamera SLR ataupun dengan menyewa jasa foto-keliling yang bertebaran hampir disemua lokasi-lokasi wisata yang terkenal.

Kunci utama didalam travelling photography adalah membuat hasil foto tersebut dapat dimengerti dan diterima oleh seluruh lapisan masyarakat, alias tidak untuk dinikmati sendiri oleh si pengambil gambar (tukang foto).

Usahakan untuk menangkap mood dan budaya dari tempat-tempat yang Anda kunjungi. Dan jika Anda beruntung, Anda bisa menjual foto hasil perjalanan ini ke orang lain. Sungguh menyenangkan pastinya. ;)

Berikut ini tips-tips jitu didalam travelling photography :

Read the rest of this entry »

14 Tips memotret landscape

My Photography December 10th, 2008

Ada beberapa tips jitu yang ditulis di fotografer.net sana oleh maestro landscape Yadi Yasin, tentang bagaimana cara mengimprovisasi foto landscape dengan ‘baik dan benar’. Berikut ini 14 tips dari beliau untuk kita pelajari bersama-sama.

1. Maksimalkan Depth of Field (DoF)

3193707335.jpgSebuah pendekatan konsep normal dari sebuah landscape photography adalah “tajam dari ujung kaki sampai ke ujung horizon”. Konsep dasar teori “oldies” ini menyatakan bahwa sebuah foto landscape selayaknya sebanyak mungkin semua bagian dari foto adalah focus (tajam). Untuk mendapatkan ketajaman lebar atau dgn kata lain bidang depth of focus (DOF) yang selebar2nya, bisa menggunakan apperture (bukaan diafragma) yang sekecil mungkin (f number besar), misalnya f14, f16, f18, f22, f32, dst.
Tentu saja dgn semakin kecilnya apperture, berarti semakin lamanya exposure.

Karena keterbatasan lensa (yang tidak mampu mencapai f32 dan/atau f64) atau posisi spot di mana kita berdiri tidak mendukung, sebuah pendekatan lain bisa kita gunakan, yaitu teori hyper-focal, untuk mendapatkan bidang fokus yang “optimal” sesuai dgn scene yang kita hadapi. Inti dari jarak hyper-focal adalah meletakan titik focus pada posisi yang tepat untuk mendapatkan bidang focus yg seluas-luasnya yg dimungkinkan sehingga akan tajam dari FG hingga ke BG. Read the rest of this entry »