5 hari berkelana di Pulau Kalimantan

3 Mar 2009

img_7594Tak terasa, kaki ini telah melangkah dan menginjakkan untuk pertama kalinya di bumi Borneo, yang terkenal akan keindahan, kemolekan, kecantikan serta suasana alam yang masih alami dan natural jauh dari sentuhan kehidupan duniawi.

Mendarat dengan menggunakan maskapai penerbangan Sriwijaya Air, satu dari 3 maskapai penerbangan rute Jakarta - Palangkaraya setiap harinya dengan tarif antara 350 ribu hingga 600 ribu sesuai dengan kelas dan kondisi keramaian penumpang. Perjalanan selama 5 hari pun akan segera dimulai.

Palangkaraya (day 1 - 2)

Bandar udara Tjilik Riwut, atau yang bisa diartikan kedalam bahasa Indonesia secara bebas yaitu “Angin Ribut”, diambil dari nama seorang ‘pembuka jalan pembangunan’ di Propinsi Kalimantan Tengah ini untuk pertama kalinya. Bandar udara yang terletak di pinggir kota Palangkaraya ini bisa ditempuh dalam waktu 30 menit dari Bunderan Besar, salah satu dari tiga buah bunderan yang terkenal di kota ini.

Palangkaraya Mall atau yang biasa disebut dengan Pal-Mall adalah satu-satunya mall paling representatif yang ada disana. Hotel Dandang Tingang adalah tempat tujuan para pelancong atau pelesir untuk beristirahat dengan nyaman.

Tanah yang hampir sebagian besar berupa tanah pasir (gambut), terlihat putih halus laksana berada di tengah-tengah hamparan lautan pasir yang indah dan menawan. Udara siang hari yang bisa mencapai 39 derajat celcius, akan berubah secara drastis dan tiba-tiba begitu menjelang malam hari. Hujan deras disertai angin kencang kerap sekali menghampiri kota yang ada ditengah-tengah pulau Kalimantan ini.

Tak lupa aku sempatkan mampir ke Jembatan Kahayan, serta dilanjut ke Kampung Lauk untuk makan siang dengan aneka macam masakan sea-food-nya. Dimalam hari anak-anak mudanya kerap sekali nongkrong dan bercengkerama di daerah Pal-Mall dan Bunderan Besar. Disana tersedia kafe-kafe tenda ataupun warung-warung masakan dengan aneka macam masakan. Mulai dari Soto Ayam Lamongan hingga ke Soto Banjar pun ada. Wedang Ronde atau Wedang Jahe Gingseng pun cocok untuk menemani jagung bakar di malam yang kian larut.

Suasana kota yang tertata apik dan rapi, terlihat dari lebar dan lengangnya jalan raya yang ada, serta pengaturan tata kota yang indah dan cantik, maka tak heran Palangkaraya ini mendapat sebutan “Kota Cantik” yang juga dijadikan sebagai semboyan (maskot) kota ini.

Kuala Kapuas (day 3 - 4)

Perjalananku pun aku lanjutkan ke arah timur dari kota Palangkaraya ini, ke arah Kota Kuala Kapuas. Perjalanan darat bisa ditempuh selama 2 jam dengan menggunakan mobil pribadi. Jangan khawatir jika tidak membawa kendaraan pribadi, karena dari Palangkaraya banyak tersedia taksi ataupun mobil carteran (travel) yang siap mengantar Anda hingga kedepan tempat tujuan (tentu saja dengan uang tip tambahan) jika tempat tujuan Anda terlalu ‘melebar’ dari jalur utama dari taksi atau travel tersebut.

O iya, taksi yang dimaksud disini bukanlah taksi sedan seperti halnya di kota-kota besar itu, tapi yang disebut dengan taksi disini adalah mobil kijang kapsul yang berubah menjadi mobil omprengan. Tentu saja dengan plat warna hitam masih melekat di depan dan belakangnya.img_5423

Kota Kuala Kapuas ini terletak diantara aliran Sungai Kapuas yang mengular mengitari kota ini. Lebar sungai ini hampir 1 kilometer panjangnya. Jadi tidaklah heran jika ada jasa penyeberangan sungai sekelas ferry yang bisa dimuati oleh 10 buah mobil yang lokasinya jauh dari jembatan penyeberangan yang permanen. Cukup rogoh kocek sebesar Rp 1.000,- untuk kendaraan roda dua. Sedangkan untuk mobil sudah tidak diperkenankan untuk naik lagi dikarenakan ada kejadian mobil yang melorot sewaktu diatas kapal dan terjebur kedalam sungai.

Di kota ini ada sebuah kumpulan pulau, yang bernama Pulau Telo, atau yang bisa diartikan dengan Pulau Tiga, karena terdiri dari tiga buah kumpulan pulau ditengah-tengah sungai Kapuas ini. Konon cerita pulau ini bisa berpindah-pindah tempat. Kadang-kadang pulau berderet lurus searah dengan aliran sungai, kadang-kadang juga berderet berjajar ke arah tepian sungai. Konon cerita ada yang mempercayai bahwa pulau ini adalah pulau yang dihuni oleh sekumpulan hantu-hantu sejak jaman nenek moyang dahulu.

Jikalau Anda ingin berbelanja kebutuhan sehari-hari, maka Pasar adalah satu-satunya tempat tujuan Anda. Begitu pula jika ingin membeli pakaian (baju / kaos) pun bisa didapat dengan mudah di Pasar yang terletak dipinggiran Sungai Kapuas. Jaringan supermarket / minimarket belum sampai ke kota ini, akan tetapi hampir semua Bank berikut jaringan ATM nya telah ada disini, jadi Anda tidak kesusahan untuk mendapatkan uang cash kapan saja. ;)

Di kota inilah istriku dilahirkan. Sanak saudara dari keluarga istri (mertua) masih banyak yang berada disini. Kesemuanya hampir tinggal saling berdekatan, jadi hanya butuh waktu yang tidak lama untuk bisa mendatangi mereka satu persatu untuk bersilaturahmi.

Banjarmasin (day 5)

Perjalanan ku pun berakhir di kota Banjarmasin, 1 jam perjalanan dari kota Kuala Kapuas. Perjalanan darat disini terasa sangat lama dikarenakan jalanan yang rusak parah dikarenakan aspalnya terkelupas disana-sini. Ada beberapa ruas jalan yang berupa jalan makadam / jalan tanah liat tanpa aspal sama sekali. Jadi harap berhati-hati ketika melaju ke arah Banjarmasin ketika malam hari.

Begitu memasuki kota Banjarmasin kemacetan pun menyambut, walau masih bisa terkendali serta tidak separah di Jakarta. Itu semua disebabkan ruas jalannya yang kecil, serta beberapa bagian yang berubah menjadi satu arah saja, sehingga semua kendaraaan terkonsentrasi disetiap persimpangan-persimpangan yang ada.

Sungai Martapura dan Barito membelah kota ini, lebar sungai ini hampir sama dengan Sungai Kapuas. Ada beberapa speedboat ataupun kapal-kapal kelotok yang masih melayani para wisatawan ataupun penduduk sekitar yang ingin mencapai berbagai tempat tujuan.

Sayangnya aku tidak sempat untuk mampir ke lokasi Pasar Terapung karena lokasinya yang berseberangan jauh dengan Bandara Udara Samsudin Noor dimana pesawatku telah menunggu untuk mengantarku kembali ke Jakarta.

Begitulah perjalananku kali ini selama 5 hari di Pulau Kalimantan. Pulau nan indah dan eksotis. Namun sayang selama diperjalanan baik di Palangkaraya, Kuala Kapuas maupun Banjarmasin, baik lewat darat ataupun udara, sudah jarang ditemui pohon-pohon yang berukuran besar ataupun sekumpulan hutan rimba yang rimbun. Hampir sebagian daratan saat ini hanya ditumbuhi oleh pohon-pohon yang kecil-kecil.

Semoga saja predikat ‘Paru-paru Dunia’ masih disandang oleh salah satu pulau terbesar yang ada di Indonesia ini. Amin.

Sampai jumpa lagi pada acara jalan-jalan yang lainnya. ;)

Untuk foto-foto yang lainnya bisa dilihat di : http://munjalindra.com/main.php?g2_itemId=11174


TAGS jalan-jalan langlang kalimantan palangkaraya kuala kapuas banjarmasin borneo


-

Author

Search

Recent Post