Penyakit-penyakit di kota Jakarta

15 Jan 2009

monas2.jpgJAKARTA, layaknya seorang perempuan cantik nan molek selalu mengundang decak kagum siapapun yang pernah merasakan ataupun melihatnya. Baik melalui layar kaca maupun lewat media cetak. Gemerlap lampu yang kelap-kelip dikala malam hari, menambah syahdu tamaram senja di kota itu. Seakan-akan menjadi magnet yang luar biasa besarnya terhadap seluruh penduduk negeri ini untuk mendatanginya hingga akhirnya menghuninya.

Tetapi janganlah Anda hanya terpikat akan indah dan molek tubuhnya saja, karena dibalik kecantikan dirinya, tersembunyi berbagai macam penyakit yang akan menjangkiti siapa saja yang tidak siap untuk mengantisipasinya. Apa sajakah penyakit itu ? Sudah siapkah Anda menghadapinya ?

Mari kita kupas bersama-sama.

Kemacetan
Seolah-olah menjadi hal yang lumrah kemacetan menghiasi ruas jalan Ibukota ini. Coba tengok di pagi hari ataupun sore hari. Jalan raya pun laksana tempat parkir terpanjang di dunia. Angkutan massal yang seakan-akan menjadikan impian semua orang pun seakan-akan tetap jauh dari impian dan anganan. Laksana punguk yang merindukan bulan.

Banjir
Bulan Januari, identik dengan idiom “Hujan Sehari-hari” yang hingga kini pun masih sahih dalil tersebut. Hampir setiap hari mendung hitam selalu mengelayut di atas awan kota ini. Dampak nyata yang terlihat adalah banjir pun datang tanpa diundang dimana-mana. Hal yang seharusnya bisa diatasi dengan mudah, tapi seolah-olah menjadi susah. Alam pun dijadikan kambing hitam oleh semua pihak. Opo tumon ?

Kemiskinan
Kaya dan miskin itu adalah sebuah anugerah. Tidak ada satu orang pun didunia ini yang berkeinginan untuk menjadi orang miskin selama hidupnya, apalagi hingga menurun ke anak cucu. Tetapi kesenjangan sosial antara si kaya dan si miskin yang terjadi di kota metropolitan ini laksana gunung yang tinggi menjulang dan jurang dalam mencekam. Si kaya bisa dengan enaknya menghambur-hamburkan uangnya sekejap saja demi sepotong roti dan secangkir minuman, tapi si miskin pun harus berdiri seharian penuh diperempatan jalan hanya untuk mendapatkan uang recehan tuk bertahan hidup hingga ke esok harinya. Sungguh ironis sekali.

Kriminalitas
Dimana ada sekumpulan orang yang berinteraksi, disitulah ada kriminalitas yang mengintai. Terminal bus, stasiun kereta api, pasar-pasar bahkan hingga ke gedung-gedung perkantoran pun tidak luput oleh tindakan ini. Jikalau ditempat-tempat umum tindak kriminalitasnya lebih kearah fisik (mencuri, menjambret, menodong, dll) lain halnya yang terjadi di dalam gedung-gedung bertingkat, disini tindak kriminalitas lebih rapi dan licin untuk dilacak siapa saja, termasuk oleh KPK ataupun pihak berwenang dan berwajib lainnya.

Terjebak Rutinitas
Ritme kehidupan yang serba cepat dan efisien, seakan-akan telah membuat para penghuni ibukota Republik Indonesia ini menjadi sebuah robot, yang mempunyai sistem rutinitas sehari-hari. Mulai dari bangun pagi kemudian menggosok gigi hingga pergi beraktifitas dan kembali lagi tidur di malam harinya. Hal itu terus berulang dari hari ke hari, bulan ke bulan hingga tak terasa umur pun telah habis melakukan rutinitas tanpa kita sadari. Sadarkah Anda ?

Pemuas Nafsu Komersial
Sudah menjadi kodrat manusia, yang diciptakan dengan akal dan nafsu. Hampir sama juga dengan umur kehidupan manusia, kebutuhan akan pemuas hawa nafsu pun dibutuhkan laksana makanan dan minuman. Laksana hukum dalam perdagangan, ada permintaan, ada yang menyediakan. Layanan seks komersial, baik yang berkelas hotel berbintang ataupun didalam warung-warung remang pun hadir melengkapinya. Seolah-olah menemani denyut nadi sang malam yang kelam dengan hingar bingar musik dan kerlap-kerlip lampunya. Desahan nafas memburu pun tak mau kalah menggapai puncak awan.

Pola hidup konsumtif
Menjamurnya pusat-pusat perbelanjaan, hiperstore hingga toko serba ada yang hampir merata diseluruh pelosok kota Jakarta ini telah mengubah gaya hidup dan tingkah laku masyarakat ibukota. Mulai dari sekedar hanya jalan-jalan refreshing untuk cuci mata sejenak melepas penat hingga ajang kumpul-kumpul dengan sahabat karib ataupun keluarga pun dilakukan didalamnya. Tak lupa belanja kebutuhan sehari-hari ataupun keinginan sesaat juga tersedia lengkap tinggal pilih sesuai selera. Ingat-ingat saja akan isi dompet, solusi instan kartu kredit bukanlah jalan keluar yang bijaksana.

Narkoba dan psikotropika
Himpitan hidup yang datang bertubi-tubi setiap harinya, membuat para penghuni kota ini stress secara tidak disengaja. Banyak orang yang ingin segera terbebas dari belenggu masalah ataupun problematika yang ada dengan cara instan dengan menggunakan narkoba. Pada awalnya hanya coba-coba atau dalam dosis yang kecil. Tapi ketika hal itu telah menjadi sebuah kebutuhan, malapetaka pun telah menghantuinya. Hanya 2 hal saja akhir cerita dari seorang pengguna narkoba, yaitu : mati atau masuk penjara. Mau ?

Semoga kita semua, keluarga-keluarga kita, orang-orang yang kita kasihi dan cintai, dapat terhindar akan penyakit-penyakit diatas. Penyakit ini tidak hanya bisa dijumpai di Jakarta saja, tapi hampir dimiliki oleh semua kota-kota besar yang ada di penjuru dunia pun memilikinya. Tentu saja dengan kadar dan komposisi yang berbeda-beda, sesuai dengan taraf hidup dan tingkat kemakmuran dari kota tersebut.

Sudah siapkah Anda menghadapinya ?

Picture tribute to : http://www.femina-online.com/ultah/images/kilas_balik/monas.jpg


TAGS


-

Author

Search

Recent Post