Benny & Mice : Meledek lewat kartun

14 May 2008

620924638_092e17e42e_o.pngPada Intisari terbitan bulan Mei 2008 ini, terdapat artikel mengenai kartunis Benny & Mice yang hadir menyapa para pembaca Kompas setiap hari Minggu. Dua orang yang menyertai kehidupan di Jakarta khususnya dan Indonesia pada umumnya dengan sangat tekun, cermat, tapi lucu dan santai karena mereka adalah penulis, penyair, wartawan yang mediumnya kartun. Dua kartunis terkenal ini adalah Benny & Mice.

Benny adalah Benny Rachmadi, sedangkan Mice adalah Muhammad Misrad. Kartun mereka begitu kuat sehingga sekali melihat kita mengetahui itu karya mereka. Sekarang di harian Kompas setiap hari minggu ada kartun mereka. Dibaca atau tidak, kartun itu melekat. Dan isinya kita mengerti atau tidak, setuju atau tidak, pesan kartun itu pasti sampai.

Benny & Mice menyatakan kartun mereka memotret keadaan sehari-hari, terutama menyorot perilaku kelas menengah bawah Jakarta. Kartunnya tidak dilucu-lucukan tapi sebenarnya keadaan Jakarta memang sudah lucu sendiri. Ide kartun mengenai Lagak Jakarta yang telah beberapa kali dibukukan tidak akan habis karena salah satunya Jakarta menyebalkan.

Berikut ini wawancara antara Wimar Witoelar dengan Benny Rachmadi dan Muhammad Misrad yangaku ambil dari sana (ijin ngambil ya om wimar … ;) ):

Saya kenal mereka sejak tahun 1996 dan sangat berterima kasih. Kalau Anda suka melihat kartun orang keriting pakai kacamata, baju kotak-kotak, lucu, manis, maka kartun itu karya Benny & Mice. Padahal saya tidak begitu, tapi kartunnya Mice begitu. Saya ingin tanya Benny & Mice, apakah setiap Anda melihat orang membentuk suatu citra di kepala Anda? Bagaimana Anda mulai menilai orang?
Benny: Kadang-kadang kami melihat dari lucunya dulu, tampangnya, fisiknya dulu.

Apakah ada atau tidak orang yang tidak lucu sehingga tidak mau dibuat kartunnya?
Benny: Ya, kalau tidak lucu untuk apa dibuatkan kartunnya.

OK, jadi mulainya dari situ yah, dan bukan dari segi ketokohan atau omongan.
Benny: Pertama dari fisik
Mice: Kedua dari perilaku, tingkah lakunya menyebalkan atau tidak.

Orang yang di panggung publik, di koran atau media itu lebih banyak yang menyebalkan atau lebih banyak yang mengilhami, atau lebih banyak mengasyikkan dari kacamata Anda?
Mice: Lebih banyak mengilhami.

Kalaupun tidak menyebalkan, apakah masih bisa dikarikaturkan?
Mice: Ya masih bisa.

Apakah mereka yang menyebalkan itu suka bereaksi kalau dikarikaturkan?
Mice: Bereaksinya ketawa juga, padahal sebetulnya kita meledek tapi mereka malah tidak marah. Kendati demikian kita tidak mengetahui di dalam hatinya.

Bagusnya begitu. Apakah Anda jarang kena serangan balik seperti marah begitu?
Mice: Ya.

Yang saya ketahui kartun-kartun Anda berupa “Lagak Jakarta” mengenai kehidupan kota besar urban di Jakarta, apakah memang sampai sekarang titik beratnya terhadap hal tersebut?
Mice: Ya, masih Jakarta.

Apakah itu karena memang Anda berdua dibesarkan di Jakarta sejak kecil?
Benny: Kalau saya sih sejak kuliah tahun 1986 di Jakarta, sebelumnya di daerah yaitu Samarinda. Kalau Mice asli orang sini, Betawi.

Saya melihat sampul buku Lagak Jakarta. Saya pikir mengapa ini tidak jadi baju kaos, T-shirt, wallpaper, dinding bus karena sebetulnya positif. Apakah Anda melihat atau tidak disain grafis Anda memang menarik atau kebetulan sengaja dibuat menarik?
Benny: Kebetulan kita dari jurusan disain grafis, maka dengan sendirinya kita memikirkan hal seperti itu. Jadi tidak selalu gambar kartun lucu, tapi juga tetap mempertimbangkan komposisinya.

Oh, jadi Kalau Anda suka membuat gambar yang besar sudah ada komposisinya sebelumnya?
Benny: Ya, pasti ada juga.

Nah, topik Jakarta itu memang tidak akan habis-habisnya. Tapi apakah Anda bosan atau tidak selama 12-14 tahun mengenai Jakarta terus, apakah tidak merasa kehabisan bahan?
Benny: Kayaknya tidak bakal habis. Kita sudah membuatnya sejak tahun 1997 dan belum habis juga sampai sekarang.
Mice: Kita mau meluncurkan 100 tokoh pada akhir Februari tahun ini. Sebenarnya ini ide kita tahun 1997, sempat mandeg dan saat itu kita sudah menggambar 30 tokoh pada tahun 1997.

Apakah benar-benar 100 tokoh?
Mice: Ya, 100. Kalau mengenai ide memang kayaknya Jakarta tidak akan habis.

Syukur deh, mungkin karena banyak orang menyebalkan aja ya.
Mice: Betul, itu alasannya.

Sekarang, apa topik Jakarta yang paling populer di kepala Anda? Apakah banjir, busway, copet?
Mice: Banjir karena memang menyebalkan.

Mengenai lifestyle, orang mengatakan sebelum era handphone, pergi ke warung tegal (Warteg) karena banyak duit, terus kalau orang sudah mempunyai handphone uangnya habis untuk beli pulsa. Apakah untuk lifestyle-nya Anda lebih menyorot kelas menengah atas atau menengah bawah?
Mice: Kita menyorot kelas menengah bawah.

Apa yang paling lucu kalau menengah bawah?
Mice: Snob-snobnya.

Apakah benda atau perilaku yang menunjukan ke-snob-annya itu?
Mice: Bisa dari benda, bisa dari perilaku. Kebanyakan sih benda.
Benny: Memaksakan mempunyai suatu barang yang mungkin tidak pantas bagi dia. Fungsinya juga tidak tahu. Contoh paling gampang mungkin handphone. Ada yang beli handphone seharga Rp 6 juta tapi hanya untuk layanan pesan singkat (sms) dan menelpon doang.

Kalau cerita-cerita kartunnya saya lihat seperti video klip. Cerita satu halaman-dua halaman. Apakah ada atau tidak satu buku cerita panjang seperti Lat (kartunis asal Malaysia) dengan judul Kampung Boy, yang menunjukkan sejarah dari kecil sampai besar, apakah ada rencana seperti itu?
Benny: Kalau seperti komik belum, tapi ada rencana untuk ke situ.

Apakah Mice dan Benny mulai menjadi kartunis dengan mencari topik dulu atau dari awal sudah berpikir Jakarta ini aneh, lucu, dan mencari ekspresi di kartun, mana yang duluan?
Mice: Dua-duanya benar. Jakarta memang lucu. Awalnya, waktu itu kita memang dipanggil penerbit Kepustakaan Populer Gramedia (KPG). Mereka juga tidak ada ide, kita disuruh membuat cerita

Apakah waktu itu masih mahasiswa?
Mice: Ya, masih mahasiswa, dan kita sudah cocok berdua. Akhirnya, ya sudah Jakarta saja.

Oh jadi Awal mulanya ditugaskan.
Mice: Iya, tapi tidak tahu ditugaskan membuat apa.

Dimana Itu dimuat?
Mice: Langsung buku Lagak Jakarta.

Kalau menurut saya, buku yang pertama itu sudah hebat sekali dan terlihat orang yang membuatnya ahli. Menurut Anda, apa kelebihan buku Anda yang sekarang dari yang pertama?
Mice: Memotret keadaan sehari-hari. Itu saja. Tapi sebenarnya keadaannya memang sudah lucu sendiri, bukan kita melucu-lucukannya.

Mengenai 100 tokoh, apakah benar jumlahnya 100, coba sebutkan beberapa saja dan tidak usah sampai 100?
Benny: Sebelumnya kita mau tebak-tebakan dulu. Menurut Pak Wimar, siapa kira-kira tokoh tersebut?

Pasti ada Sutiyoso.
Benny: Salah

Tidak ada? Ah, saya tidak mau membelinya. Kalau Fauzi Bowo?
Benny: Wah, salah.

Rano Karno?
Benny: Wah, apalagi itu.

Bagaimana kalau Jusuf Kalla?
Benny: Ah, terlalu berat.

Siapa dong? Apakah beneran tokoh? Oke, sebut dong siapa nama tokohnya?
Benny: Sebenarnya tokoh dalam tanda kutip. Tokoh-tokoh itu kita semua sehari-hari.

Oh, Wah, bagus-bagus, orang biasa di Jakarta
Benny: Ya, bisa anggota pertahanan sipil (Hansip), ada banci Taman Lawang.

Setuju sekali karena orang biasa yang penting, kalau tokoh jabatan sih cuma lewat-lewat saja
Benny: Jadi tokoh itu dalam tanda kutip, orang dalam kehidupan sehari-hari.

Jadi ada sopir, ojek, tukang parkir, copet, kondektur, jambret. Apakah ada juga orang baiknya?
Mice: Guru mengaji juga ada
Benny: Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP) juga ada. Jadi mungkin orang ketipu kalau melihat buku tersebut, apalagi orang yang sudah GR (gede rasa - Red) duluan.

Menurut saya, kartunis Benny & Mice saat ini adalah terbesar di Indonesia, saya tidak tahu penjualannya atau lainnya. Namun kalau saya melihat dari segi kesan, branding, sangat terkesan seperti Lat. Apakah Anda mempunyai pendapat mengenai Lat? Apakah Anda mengenalnya atau terpengaruh?
Mice: Kita berdua pengagum Lat.

Apakah Lat sudah ada sebelum Anda mulai atau sama-sama?
Mice: Sudah ada, jauh sebelum kita.

Apakah Anda bisa atau tidak mengatakan itu ada pengaruhnya?
Mice: Amat sangat.

Oh begitu, kalau menurut saya soal dipengaruhi tidak apa-apa, asal jelas pengaruhnya dari mana dan kita bisa memakainya secara benar. Kalau saya pribadi juga suka menghasilkan karya-karya kecil, jadi kalau saya meniru gaya siapa asal yang ditiru itu benar dan sudah bagus rumusnya maka kita tiru. Misalnya, rumus di buku “Kampung Boy” saya kira bagus menunjukkan latar belakang orang di kampung, kemudian temannya pergi sekolah ke luar negeri. Ada satu kesedihan, saya pengen sekali melihat buku semacam itu. Apakah Jakarta merupakan kota yang sedih atau gembira untuk Mice yang sejak kecil di sini?
Mice: Mungkin perbedaannya Lat itu bertuturnya manis, roman, tapi karena kondisi Jakarta begini, jadi kita tidak mungkin.

Jadi Anda hanya snap shot, potret seketika saja. Apakah membuat satu epik itu susah?
Mice: Ya, mungkin mengganggu suasana.

Bagaimana pengertian orang terhadap karya Anda sejak tahun 1996 dengan di kompas sudah empat tahun?
Mice: Komentar pembaca rata-rata mengatakan kalau kita ini, “Ancur”.
Benny: Kalau kita iseng buka-buka blog orang, banyak yang mengatakan seperti itu, “Ancur = Asyik, apa adanya.”
Mice: “Sakit” dan macam-macam pokoknya
.

Setahu saya tidak banyak yang mengikutinya juga. Selain Anda juga diilhami oleh Lat, apakah Anda merasa ada kartunis lain yang juga diilhami, apakah Anda merasa ada satu aliran yang lahir dari sini?
Mice: Ada sih sepertinya kalau dari Amerika, Eropa, seperti yang di MTV ada “Beavis and The Butthead”. Ada dua tokoh mungkin itu sedikit kita ambil. Lalu kalau teknis kita mengambil dari Bart Simpsons-Matt Groening, tapi Lat lebih dalam.

Saya kira iya dan Lat itu tidak ada di Barat sangat Asia. Apakah ada orang lain yang meniru Benny & Mice?
Benny: Kalau orang lain, kita belum melihatnya.

Dulu sekolah di IKJ, apakah sekarang Anda tidak mau mengajarkan teknik-teknik kartun?
Benny: Kayaknya teknik kartun itu masing-masing, susah kalau diajarkan, mungkin iya Lat influence kita, tapi kalau diajarkan harus A, harus B, tidak bisa.

Tapi pengaruh Lat pada Anda bukan pada grafisnya tapi pada suasananya saja.
Benny: Mungkin iya, cara pemikiran, cara bercerita.

Beberapa karakter yang ada di Lat suka muncul potretnya, tapi cara grafisnya/menggambarnya tidak.
Benny: Awalnya sih mungkin orang mengatakan, “Wah,ini Lat banget nih!” Tapi setelah berjalan hampir 12 tahun dapat karakter kita sendiri.

Memang yang pertama kita liat itu Lat banget. Itu pun saya tidak keberatan karena enak ada Lat, tapi di Indonesia. Misalnya, MTV tapi lagu Indonesia, tetap saja senang. Tidak usah ngotot soal keaslian, yang penting orang senang. Apa proyek berikutnya sesudah 100 tokoh, berapa lama untuk membuat 100 tokoh itu?
Benny: Itu kemarin dari bulan puasa, Oktober sampai sekarang. Sekarang naik cetak.

benny_mice_f_807_f_404.jpgBagaimana cara kerjanya karena tentu tidak hidup serumah, sekamar? Apakah janjian dulu, ada jam kantor, lewat internet, atau lainnya?
Benny: Mice sering ke rumah saya di Depok jadi kerjanya di rumah saya.
Mice: Di meja makan, jadi kerja bareng, ide bareng. Kita sketsa, sudah ada story board, ada kolom-kolom, terus kita bagi.

Dimana spesialisasinya, apa tugas Benny dan apa tugas Mice?
Mice: Sama. Jadi ide rembug, sketsa rembug, semuanya rembug dulu.

Jadi lebih harmonis dari Susilo Bambang Yudhoyono Jusuf Kalla (SBY-JK) dong?
Benny & Mice: Ha….ha….ha.

Apakah Anda tidak merasa, “Gue neh gue banget, dia tuh dia banget”, apakah tidak ada perbedaan?
Benny: Sepertinya benar-benar tidak ada. Mungkin nama Benny & Mice bukan berarti saya memimpin Mice karena nama saya duluan, mungkin karena tinggi badan saya lebih tinggi dari dia (Mice).

Coba kita lihat The Beatles mereka berempat tapi kemudian kita melihat ada perbedaannya. Kalau si John lebih filosofis, McCartney lebih romantis, Ringo breng breng breng, George lebih religius. Mereka berpadu, tapi secara individu beda. Apakah dalam hal Anda berdua itu tidak terjadi?
Benny: Kayaknya belum.

Apakah Anda sudah berkeluarga?
Benny: Saya sudah, kalau Mice belum.

Kalau naksir cewek, apakah sama juga atau tidak?
Mice: Kalau cewek sih bukan masalah selera.

lat04.jpgItulah petikan dari wawancara antara Benny & Mice dengan Wimar Witoelar yang ada disana. Kalau kita coba perhatikan kartun yang dihasilkan oleh Lat (Mohamed Nor Khalid) yang ada disana, ternyata memang benar seperti yang dikatakan oleh Benny & Mice, bahwa merekatelah ‘terinspirasi’ oleh Lat.

Picture tribute to:
http://www.perspektifbaru.com/wawancara/622
http://www.etawau.com/HTML/AirAsia/Lat.htm
http://farm2.static.flickr.com/1048/620924638_092e17e42e_o.png


TAGS benny & mice kartun lat


-

Author

Search

Recent Post