Akhirnya ngumpul semuanya lagi

7 Apr 2008

dsc00695.jpgSetelah hampir 1 tahun (tepatnya 10 bulan) lamanya, dik Pandhu berada di Ponorogo untuk diasuh oleh kedua orangtuaku. Itu semua dikarenakan pada waktu itu pembantuku yang dari Cianjur pulang kampung dikarenakan anaknya sedang membutuhkan dia.

Dikarenakan kepulangannya yang mendadak, dan susahnya mencari pembantu rumah tangga, kedua orangtuaku pun berinisiatif untuk merawat dik Pandhu di Ponorogo, sekaligus sebagai penghibur dan teman buat ayahku yang sudah pensiun beberapa tahun yang lalu.Maka kami pun mengamini usulan dari kedua orangtuaku tersebut, dan menitipkan dik Pandhu untuk diasuh oleh mereka untuk sementara waktu.

Hari berganti hari, minggu berganti minggu, bulan berganti bulan, tahun pun telah berganti, dan pada hari Jumat kemarin aku sekeluarga (ummi dan mbak lia) mudik ke Ponorogo, karena ada acara Tahlilan 100 hari meninggalnya mbahkungku. Kami pun melihat perkembangan dik Pandhu yang telah pesat jika dibandingkan dengan anak tetangga rumah yang seumurannya, dari dulu yang hanya bisa merangkak saja sewaktu aku tinggal, sekarang sudah bisa lari-larian kesana kemari. Sampai-sampai ayah dan ibuku pun kewalahan untuk mengimbangi kelincahan dik Pandhu tersebut, padahal telah dibantu dengan satu orang pembantu yang telah disiapkan oleh kedua orangtuaku secara dedicated untuk mengikuti kemanapun dik Pandhu mondar mandir sehari-harinya.

Melihat hal tersebut pun aku dan ummi pun menyampaikan kepada kedua orang tuaku untuk berencana mengambil kembali dik Pandhu untuk kami asuh di Bogor bersama dengan mbak Lia. Semua itu demi perkembangan dia, baik secara batiniah maupun jasmaniahnya. Karena dari dalam lubuk hatiku yang paling dalam terdapat rasa bersalah yang amat mendalam, rasa bersalah karena telah menambahkan beban tambahan kepada kedua orang tuaku yang udah mulai beranjak uzur, walaupun sebenarnya mereka selalu bilang kalaulah dik Pandhu itu tidaklah menjadi beban, tapi justru sebagai penghibur dan membuat suasana di rumah ortuku yang mulai sepi hanya mempunyai 2 orang anak saja itu menjadi ceria dengan kehadirannya setelah absennya diriku semenjak lepas dari SMP hingga kini. Dan yang kedua adalah bersalah karena secara tidak langsung telah memisahkan dik Pandhu dari kedua orang tua dan saudaranya, yaitu aku, ummi dan mbak Lia, dan membiarkan dia tumbuh berkembang ditengah-tengah keluarga yang lain, walaupun sebenarnya masih ada hubungan darah dengannya.

Alhamdulillah kedua orangtuaku pun dengan rela melepaskan dik Pandhu untuk aku asuh kembali, walaupun dengan uraian air mata dikala melepas kepergian kami, karena secara tidak langsung, dik Pandhu ini telah menjadi ‘anak ragil’ dari kedua orang tuaku selama 10 bulan terakhir ini. Akupun ikut merasakan kepedihan dan perasaan kedua ortuku disaat mereka melepas keberangkatanku sekeluarga ke Stasiun Madiun kemarin sore. Seakan-akan alam pun ikut merasakan kepedihan kami kala itu, hujan rintik-rintik pun ikut mengiringi keberangkatan kami kemarin sore untuk kembali kedalam kehidupan nyata di perantauan.

Bapak, ibu, semuanya ini demi kebaikan kita semua. Doakan dik Pandhu akan lekas besar dan semakin pintar, seperti halnya mbak Lia, Abinya, Umminya, ataupun kakung dan utinya. Terima kasih kami ucapkan dari lubuk hati yang paling dalam, karena telah dengan ikhlas merawat dan membesarkan dik Pandhu sejak bulan Juni 2007 kemarin, baik dikala suka dan duka. Semoga Bapak, Ibu dan Adik diberikan ketabahan, keselamatan dan rahmat yang berlimpah oleh Allah swt. Amin.

Akhirnya keluargaku pun kembali berkumpul kembali, semoga dengan hadirnya dik Pandhu ditengah-tengah kehidupan kami kembali ini, akan semakin memacu aku dan ummi didalam mencari rejeki yang barokah demi keluarga, menambah semangat mbak Lia didalam menyayangi saudaranya, serta menumbuhkan rasa percaya diri didalam diri dik Pandhu, karena telah kembali ketengah-tengah keluarganya lagi. Amin.


TAGS


-

Author

Search

Recent Post