Makan siang lauk Sate Ayam

29 Feb 2008

dsc00590.jpg Siang ini, sehabis sholat jumat seperti biasa di Inkud Buncit, terjadilah sebuah dilema diantara beberapa pilihan makan siang, apakah akan makan siang di Inkud Ground Floor, ke warung Bu Haji,keSakKoberE,keRMPadangataukeWartegDimas.

Akhirnya setelah terjadi dilematis yg mendalam, ditambah hampir aja diserempet ama Tiji (transjakarta) didepan kantor, akhirnya siang ini aku putuskan untuk makan Sate Ayam. Konon katanya yg jual ini aseli orang Madura, jadi dia-pun menaruh label Sate Ayam + Kambing Madura. Dengan kumis khas orang madura menghiasi bibirnya, ditambah lagi dengan logat madura yang kental, maka semua orang pun akan semakin yakin, kalo sate ayam ini adalah aseli madura. Walaupun sebenarnya aku lebih suka dengan Sate Ayam Ponorogo, oleh2 khas dari kampung halamanku yang hampir selalu aku bawa darisana ketika aku mudik dikala lebaran ataupun ketika ada kesempatan untuk pulang kampung ke Ponorogo.

Aku adalah salah satu penggemar berat sate, baik yang dari bahan baku ayam ataupun yang dari bahan baku kambing. Tapi ada satu hal yang membuatku tidak setiap hari memilih menu sate ayam ini, apa sebab ? karena prosesi pembakaran sate yang memakan waktu cukup lamalah yang membuat selera makanku pun kadang2 telah lenyap, sebelum sate tersebut siap terhidang dihadapanku.

Kali ini pun aku mengalami prosesi yang ‘membosankan’ itu, begitu aku memesan, ternyata aku berada pada kloter pertama didalam antrian pembakaran selanjutnya, alias sate yg sekarang ini sedang menjalani ritual itu, merupakan pesanan orang laen, walaupun jumlahnya saat itu hampir ada sekitar 40 tusuk yang sedang dibakar. Akhirnya akupun mengambil tempat duduk yg agak teduh, karena bakalan lama, dan stopwatch di HP ku pun iseng2 aku jalankan untuk mengetahui, seberapa lamakan waktu yg aku ‘buang percuma’ untuk sebuah sate ayam madura untuk makan siang kali ini. ;)

Tidak terasa telah 10 menit berlalu, dan ternyata ritual pembakaran yang tadi dilakukan masih juga belum selesai. Artinya sate ayam untuk bagianku masih belum ‘tayang’ didalam pembakaran. Aku pun jadi berandai2, andaikan tadi aku makan siang di Inkud, pastilah telah menikmati bandeng goreng ditambah nasi yang mengepul. Akupun juga berandai2 lagi, andaikan aku makan di RM Padang, maka rendang + nasi 2 porsi pun telah ludes aku lahap dalam tempo yang sama dengan aku menunggu prosesi pembakaran kali ini. Dan aku pun berandai2 lagi apabila aku makan di Warteg Dimas, maka satu porsi soto ayam ditambah 2 buah tempe goreng kripik pun telah tersaji dengan manis dihadapanku.

hmmm … ternyata untuk menikmati satu porsi sate ayam khas madura ini pun ternyata membutuhkan sebuah kesabaran yang ekstra tinggi. Akhirnya, genap 35 menit lebih beberapa detik aku butuhkan untuk mendapatkan satu porsi sate ayam khas madura. nyam nyam …

Itadakimasu … (keseringan nonton naruto neh … )


TAGS


-

Author

Search

Recent Post